Kamis, 05 Maret 2015

Peradaban Islam Pada Masa Bani Abbasiyah



PERADABAN ISLAM
PADA MASA BANI ABABASIYAH
A. Pendahuluan
        Sebuah masyarakat (Bani Abbasiyah) yang punya kesadaran yang tinggi akan ilmu, hal ini ditunjukan masyarakat yang sangat antusias dalam mencari ilmu, penghargaan yang tinggi bagi para ulama, para pencari ilmu, tempat-tempat menuntut ilmu, banyaknya perpustakaan-perpustakaan pribadi yang dibuka untuk umum dan juga hadirnya perpustakaan Bayt al-Hikmah yang disponsori oleh khalifah pada waktu yang membantu dalam menciptakan iklim akademik yang kondusif. Tak heran jika kita menemukan tokoh-tokoh besar yang lahir pada masa ini. Tradisi intelektual inilah yang seharusnya kita contoh, sebagai usaha sadar keilmuan kita dalam mengejar ketertinggalan dan segera lepas dari keterpurukan.
Sejak terbunuhnya Marwan bin Muhammad, khalifah terakhir dari Dinasti Umayyah oleh seorang pemuda berdarah Persia yang gagah berani dan cerdas bernama Abu Muslim Al-Khurasani di Fusthath, Mesir pada bulan Dzulhijjah 132 H bertepatan dengan tahun 750 M, maka berakhirlah kekuasaan Dinasti Bani Umayyah yang berkuasa kurang lebih 90 tahun. Dan itu berarti secara resmi sejak itu kekuasaan berpindah ke tangan Bani Abbas yang kemudian lebih dikenal dengan Daulah Abbasiyah.
Daulah Abbasiyah berkuasa kurang lebih selama lima abad, yaitu dari tahun 750 M hingga tahun 1258 M. Masa pemerintahan yang panjang tersebut telah mengukir sejarah keemasan (golden age) dalam peradaban Islam, terutama pada masa pemerintahan Khalifah Al-Makmun. Ummat Islam benar-benar berada di puncak kejayaan dan memimpin peradaban dunia saat itu. Berbagai kemajuan dan perkembangan yang berhasil dicapai selama masa kekuasaan Daulah Abbasiyah, antara lain :
·       Ekspansi wilayah kekuasaan dan pengaruh Islam, dari Baghdad sebagai pusat pemerintahan bergerak ke wilayah Timur Asia Tengah, dari perbatasan India hingga Cina. Ini terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Al-Mahdi (158-169 H/775-785 M).
·       Kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan agama dan syari’at.
·       Pembangunan tempat pendidikan dan tempat peribadatan.
·       Kemajuan ilmu pengetahuan, sains dan teknologi.
·       Perkembangan politik, ekonomi dan administrasi
Selain itu, pada masa Daulah Abbasiyah bermunculan beberapa tokoh Ilmuan Islam, seperti Al Kindi, Al Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al Ghazali, Al Khawarazimi, Rayhan Al Bairuni, Ibnu Mansur Al Falaky, At Tabrani, Imam Bukhari, Imam Muslim, Ibnu Majah, Abu Daud, Jahm Ibnu Sofyan, Washil bin Atha’, Sibawaih, dan lain-lain. Bahkan para ilmuan barat banyak belajar pada mereka.
Dari perjalanan dan rentang sejarah, ternyata Bani Abbas dalam sejarah lebih banyak berbuat ketimbang bani Umayyah. Pergantian Dinasti Umayyah kepada Dinasti Abbasiyah tidak hanya sebagai pergantian kepemimpinan, lebih dari itu telah mengubah, menoreh wajah dunia Islam dalam refleksi kegiatan ilmiah. Pengembangan ilmu pengetahuan pada Bani Abbas merupakan iklim pengembangan wawasan dan disiplin keilmuan.
B. Pembangunan Daulah Bani Abbasyiyah
Daulah Bani Abbasiyah diambil dari nama Al-Abbas bin Abdul Mutholib, paman Nabi Muhammad SAW. Pendirinya ialah Abdullah As-Saffah bin Ali bin Abdullah bin Al-Abbas, atau lebih dikenal dengan sebutan Abul Abbas As-Saffah. Daulah Bani Abbasiyah berdiri antara tahun 132 – 656 H / 750 – 1258 M. Lima setengah abad lamanya keluarga Abbasiyah menduduki singgasana khilafah Islamiyah. Pusat pemerintahannya di kota Baghdad.
Tokoh pendiri Daulah Bani Abbasiyah adalah Abul Abbas As-Saffah, Abu Ja’far Al-Mansur, Ibrahim Al-Imam dan Abu Muslim Al-Khurasani. Bani Abbasiyah mempunyai kholifah sebanyak 37 orang. Dari masa pemerintahan Abul Abbas As-Saffah hingga Kholifah Al-Watsiq Billah, agama Islam mencapai zaman keemasannya (132 – 232 H / 749 – 879 M). Dan pada masa kholifah Al-Mutawakkil sampai dengan Al-Mu’tashim, Islam mengalami masa kemunduran dan keruntuhan akibat serangan bangsa Mongol Tartar pimpinan Hulakho Khan pada tahun 656 H / 1258 M.
1.     Peta Daerah Perkembangan Islam Pada Masa Bani Abbasiyah
Pemerintahan daulah Bani Abbasiyah merupakan kelanjutan dari pemerintahan daulah Bani Umayyah yang telah hancur di Damaskus. Meskipun demikian, terdapat perbedaan antara kekuasaan dinasti Bani Abbasiyah dengan kekuasaan dinasti Bani Umayyah, diantaranya adalah :
a)    Dinasti Umayyah sangat bersifat Arab lokal, artinya dalam segala hal para pejabatnya berasal dari keturunan Arab murni, begitu pula corak peradaban yang dihasilkan pada dinasti ini.
b)    Dinasti Abbasiyah, disamping bersifat Arab murni, juga sedikit banyak telah terpengaruh dengan corak pemikiran dan peradaban Persia, Romawi Timur, Mesir dan sebagainya.
Pada masa pemerintahan dinasti Abbasiyah, luas wilayah kekuasaan Islam semakin bertambah, meliputi wilayah yang telah dikuasai Bani Umayyah, antara lain Hijaz, Yaman Utara dan Selatan, Oman, Kuwait, Irak, Iran (Persia), Yordania, Palestina, Lebanon, Mesir, Tunisia, Al-Jazair, Maroko, Spanyol, Afganistan dan Pakistan, dan meluas sampai ke Turki, Cina dan juga India.
2.     Bentuk-Bentuk Peradaban Islam Pada Masa Daulah Abbasiyah
Masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah merupakan masa kejayaan Islam dalam berbagai bidang, khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Pada zaman ini, umat Islam telah banyak melakukan kajian kritis terhadap ilmu pengetahuan, yaitu melalui upaya penterjemahan karya-karya terdahulu dan juga melakukan riset tersendiri yang dilakukan oleh para ahli. Kebangkitan ilmiah pada zaman ini terbagi di dalam tiga lapangan, yaitu : kegiatan menyusun buku-buku ilmiah, mengatur ilmu-ilmu Islam dan penerjemahan dari bahasa asing.
Setelah tercapai kemenangan di medan perang, tokoh-tokoh tentara membukakan jalan kepada anggota-anggota pemerintahan, keuangan, undang-undang dan berbagai ilmu pengetahuan untuk bergiat di lapangan masing-masing. Dengan demikian muncullah pada zaman itu sekelompok penyair-penyair handalan, filosof-filosof, ahli-ahli sejarah, ahli-ahli ilmu hisab, tokoh-tokoh agama dan pujangga-pujangga yang memperkaya perbendaharaan bahasa Arab.
Adapun bentuk-bentuk peradaban Islam pada masa daulah Bani Abbasiyah adalah sebagai berikut :
1)    Kota-Kota Pusat Peradaban
Di antara kota pusat peradaban pada masa dinasti Abbasiyah adalah Baghdad dan Samarra. Bangdad merupakan ibu kota negara kerajaan Abbasiyah yang didirikan Kholifah Abu Ja’far Al-Mansur (754-775 M) pada tahun 762 M. Sejak awal berdirinya, kota ini sudah menjadi pusat peradaban dan kebangkitan ilmu pengetahuan. Ke kota inilah para ahli ilmu pengetahuan datang beramai-ramai untuk belajar. Sedangkan kota Samarra terletak di sebelah timur sungai Tigris, yang berjarak + 60 km dari kota Baghdad. Di dalamnya terdapat 17 istana mungil yang menjadi contoh seni bangunan Islam di kota-kota lain.
2)    Bidang Pemerintahan
Pada masa Abbasiyah I (750-847 M), kekuasaan kholifah sebagai kepala negara sangat terasa sekali dan benar seorang kholifah adalah penguasa tertinggi dan mengatur segala urusan negara. Sedangkan masa Abbasiyah II 847-946 M) kekuasaan kholifah sedikit menurun, karena Wazir (perdana menteri) telah mulai memiliki andil dalam urusan negara. Dan pada masa Abbasiyah III (946-1055 M) dan IV (1055-1258 M), kholifah berperan menjadi boneka saja, karena para gubernur di daerah-daerah telah menempatkan diri mereka sebagai penguasa kecil yang berkuasa penuh.
Dalam pembagian wilayah (provinsi), pemerintahan Bani Abbasiyah menamakannya dengan Imaraat, gubernurnya bergelar Amir/ Hakim. Imaraat saat itu ada tiga macam, yaitu ; Imaraat Al-Istikhfa, Al-Amaarah Al-Khassah dan Imaarat Al-Istilau. Kepada wilayah/imaraat ini diberi hak-hak otonomi terbatas, sedangkan desa/ al-Qura dengan kepala desanya as-Syaikh al-Qoryah diberi otonomi penuh.
Selain hal tersebut di atas, Dinasti Abbasiyah juga telah membentuk angkatan perang yang kuat di bawah pimpinan panglima, sehingga kholifah tidak turun langsung dalam menangani tentara. Kholifah juga membentuk Baitul Mal/ Departemen Keuangan untuk mengatur keuangan negara khususnya. Di samping itu juga kholifah membentuk badan peradilan, guna membantu kholifah dalam urusan hukum.
3)    Bangunan Tempat Pendidikan dan Peribadatan
Di antara bentuk bangunan yang dijadikan sebagai lembaga pendidikan adalah madrasah. Madrasah yang terkenal saat itu adalah Madrasah Nizamiyah, yang didirikan di Baghdad, Isfahan, Nisabur, Basrah, Tabaristan, Hara dan Musol oleh Nizam al-Mulk seorang perdana menteri pada tahun 456 – 486 H. selain madrasah, terdapat juga Kuttab, sebagai lembaga pendidikan dasar dan menengah, Majlis Muhadhoroh sebagai tempat pertemuan dan diskusi para ilmuan, serta Darul Hikmah sebagai perpustakaan.
Di samping itu, terdapat juga bangunan berupa tempat-tempat peribadatan, seperti masjid. Masjid saat itu tidak hanya berfungsi sebagai tempat pelaksanaan ibadah sholat, tetapi juga sebagai tempat pendidikan tingkat tinggi dan takhassus. Di antara masjid-masjid tersebut adalah masjid Cordova, Ibnu Toulun, Al-Azhar dan lain sebagainya.
4)    Bidang Ilmu Pengetahuan
Ilmu pengetahuan pada masa Daulah Bani Abbasiyah terdiri dari ilmu naqli dan ilmu ‘aqli. Ilmu naqli terdiri dari Ilmu Tafsir, Ilmu Hadits Ilmu Fiqih, Ilmu Kalam, Ilmu Tasawwuf dan Ilmu Bahasa. Adapaun ilmu ‘aqli seperti : Ilmu Kedokteran, Ilmu Perbintangan, Ilmu Kimia, Ilmu Pasti, Logika, Filsafat dan Geografi.


C. Perkembangan Ilmu Pengetahuan Agama dan Syari’at Pada Masa Bani Abbasyiyah
Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan politik, para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Bani Abbas menjadi lima periode:
Ø  Periode Pertama (132 H/750 M – 232 H/847 M), disebut periode pengaruh Persia pertama
Ø  Periode Kedua (232 H/847 M – 334 H/945 M), disebut masa pengaruh Turki pertama
Ø  Periode Ketiga (334 H/945 M – 447 H/1055 M), masa kekuasaan dinasti Buwaih dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua
Ø  Periode Keempat (447 H/1055 M – 590 H/1194 M), masa kekuasaan dinasti Bani Seljuk dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah; biasanya disebut juga masa pengaruh Turki kedua
Ø  Periode kelima (590 H/1194 M – 656 H/1258 M), masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar kota Baghdad.
Pada periode pertama pemerintahan Bani Abbas mencapai masa keemasannya. Pada periode inilah berhasil disiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Namun, setelah periode ini berakhir, pemerintahan Bani abbas mulai menurun dalam bidang politik, tetapi filsafat dan ilmu pengetahuan terus berkembang.
a.     Perkembangan Ilmu dan Metode Tafsir Al Qur’an
Perkembangan metode tafsir di masa Daulah abbasiyah ditandai dengan munculnya dua metode penafsiran Al Qur’an, yaitu tafsir bin al-ma’tsur dan tafsir bin al-ra’yi . Diantara para ahli tafsir bi al-ma’tsur adalah:
v Ibn Jarir Al-Thabari dalam tafsirnya Jami’Al-Bayan fi Tafsir Al-Qur’an yang lebih dikenal dengan tafsir Al-Thabari. Tafsir ini merupakan tafsir yang terpenting dari tafsir bi al-ma’t (interpretasi taradisional),hasil karya beliau terdiri dari 30 jilid dan terkenal karena ketelitiannya dan kesaksamaannya. Banyak materinya berasal dari sumber autentik Yahudi seperti yang ditulis oleh Ka’b Al-Ahbar dan Wahb Ibn Munabbin.
v Ibn ‘Athiyah Al-Andalusy
v As Sudai yang mendasarkan tafsirnya kepada Ibn Abbas dan Ibn Mas’ud Radiyallahu ‘Anhuma.
v Muqatil Ibn Sulaiman yang tafsirnya terpengaruh oleh kitab Taurat.
Sedangkan ahli tafsir tafsir bi al-ra’yi adalah:
a)    Abu Bakar Asam (Mu’tazilah)
b)    Abu Muslim Muhammad ibn Bahar Isfahany (Mu’tazilah)
c)     Ibn Jarul Asadi (Mu’tazilah), dan
d)    Abu Yunus Abdussalam (Mu’tazilah)
Kedua metode tafsir di atas sangat berkembang di masa pemerintahan Bani Abbas. Akan tetapi jelas sekali bahwa tafsir dengan metode bi al-ra’yi (tafsir rasional), sangat dipengaruhi oleh perkembangan pemikiran filsafat dan ilmu pengetahuan. Hal yang sama juga terlihat dalam ilmu fikih dan, terutama dalam ilmu teologi. Perkembangan logika di kalangan ummat Islam sangat mempengaruhi perkembangan dua bidang ilmu tersebut.
b.    Perkembangan Ilmu Hadits
Hadits pada zamannya hanya bersifat penyempurnaan pembukuan dari catatan dan hafalan para sahabat. Pada masa pemerintahan dinasti Abbasiyah hadits mulai diklasifikasikan secara sistematis dan kronologis. Pengklasifikasian itu secara ketat dikualifikasikan sehingga kita kenal dengan klasifikasi hadits Shahih, Dhaif, dan Maudhu. Bahkan dikemukakan pula kritik sanad dan matan, sehingga terlihat jarah dan takdil rawi yang meriwayatkan hadits tersebut.
Pada masa ini muncullah ahli-ahli hadits, antara lain:
§ Imam Bukhari, yaitu Imam Abu Abdullah Muhammad Ibn Abi al-Hasan Al-Bukhari. Lahir di Bukhara tahun 194 H dan wafat tahun 256 H di Baghdad.
§ Imam Muslim, yaitu Imam Abu Muslim Ibn Al-Hajjaj Al Qushairy An Naishabury, wafat tahun 261 H di Naishabur.
c.     Perkembangan Ilmu Qira’at
Qira’ah Sab’ah menjadi termasyhur pada permulaan abad kedua hijriyah, dibukukan sebagai sebuah ilmu pada penghujung abad ketiga hijriyah di Baghdad oleh Imam Ibn Mujahid Ahmad bin Musa Ibnu Abbas, beliau amat teliti, tidak mau meriwayatkan kecuali dari orang yang kuat ingatannya (dhabit), dapat dipercaya dan panjang umur dalam mengikuti qira’ah. Disamping itu harus ada kesepakatan mengambil atau memberi darinya.
Dari data ini dapat diambil kesimpulan bahwa di zaman pemerintahan Bani Abbas perkembangan ilmu Qira’at mencapai puncaknya. Diantara ahli qira’at yang terkenal di masa pemerintahan Bani Abbas periode Pertama, adalah:
v Yahya bin Al-Harits Adz Dzamary wafat tahun 145 H
v Hamzah bin Habib Az Zayyat wafat tahun 156 H di zaman pemerintahan khalifah Abu Ja’far Al Manshur (136 – 158 H)
v Abu Abdirrahman Al Muqry wafat tahun 213 H, dan
v Khalaf Bin Hisyam Al Bazzaz wafat tahun 229 H.
d.    Perkembangan Ilmu Fiqhi
Dalam bidang fiqih, pada masa ini lahir fuqaha legendaris yang kita kenal, seperti Imam Abu Hanifah (700 – 767 M), Imam Malik (713 – 795 M), Imam Syafi’i (767 – 820 M) dan Imam Ahmad Ibn Hambal (780 – 855 M).
e.     Perkembangan Ilmu Kalam
Perdebatan para ahli mengenai soal dosa, pahala surga dan neraka, serta pembicaraan mereka mengenai ketuhanan dan tauhid, menghasilkan suatu ilmu, yaitu ilmu tauhid atau ilmu kalam.
Diantara aliran ilmu kalam yang berkembang adalah Jabariyah, Qadariyah, Mu’tazilah dan Asy’ariyah. Para pelopornya adalah Hahm Ibn Safwan, Ghilan al-Dimisyq, Wasil ibn ‘Atha’, al-Asy’ari dan Imam al-Ghazali.
f.      Perkembangan Ilmu Bahasa
Bahasa merupakan salah satu alat komunikasi yang sangat efektif. Ia tidak hanya dipergunakan dalam berkomunikasi lewat lisan, tetapi juga dipergunakan sebagai alat untuk mengekspresikan seni, di samping sebagai bahasa ilmiah. Diantara ilmu bahasa yang berkembang pada waktu itu adalah Nahwu, Sharaf, Bayan, Bad’i dan Arudh. Pada masa pemerintahan dinasti Abbasiyyah ilmu ini mengalami perkembangan sangat pesat. Hal itu dikarenakan bahasa Arab dijadikan sebagai bahasa ilmu pengetahuan, di samping sebagai alat komunikasi antara bangsa. Pusat perkembangan ilmu bahasa Arab adalah Kufah dan Bashra. Diantara para ahli ilmu bahasa yang mempunyai peran besar dalam pengembangan ilmu bahasa adalah:
1.     Sibawaih (wafat tahun 183 H). Karyanya terdiri dari dua jilid setebal 1000 halaman.
2.     Al-Kisai, wafat tahun 198 H.
3.     Abu Zakaria al-Farra (wafat tahun 208 H). Kitab Nahwunya terdiri dari 6000 halaman lebih.
g.    Perkembangan Ilmu Sastra
Penyair bangsa Arab sebelum zaman dianggap sebagai orang yang mempunyai ilmu pengetahuan tinggi, tukang sihir bergabung dengan jin dan setan dan menggantungkan kepada mereka untuk syair magic yang diinspirasikan kepadanya.
Di antara para penyair terkenal yaitu:
*     Imri’ul-Qays
*     Turrafa ibnu al-‘Abd
*     Amr ibnu Khulthum
*     Harrir ibnu Hiullisa
*     Zihayr ibnu Abi Sulma
*     Labib ibnu Abi Rabi’a
Faktor-faktor penyebab berkembang pesatnya Ilmu Pengetahuan Agama dan Syari’at di masa pemerintahan Abbasiyah adalah sebagai berikut:
1.     Para penguasanya cinta kepada ilmu dan banyak memberikan motivasi kuat kepada para ilmuan untuk melakukan kajian-kajian ilmiah dalam berbagai disiplin ilmu. Baik ilmu agama dan syari’at (Al Ulum al- Naqliyah) yang merupakan fondasi kehidupan, maupun ilmu-ilmu umum (Al Ulum al-Aqliyah) yang merupakan penopang kehidupan. Adalah Al Ma’mun, khalifah pengganti Al-Rasyid, dikenal sebagi khalifah yang sanagt cinta kepada ilmu.
2.     Sikap dan kebijaksanaan para penguasanya dalam mengatasi segala persoalan, termasuk dalam sikap politiknya. Sebab sikap politik dinasti Abbasiyah berbeda dengan sikap politik yang dijalankan pemerintahan Bani Umayyah. Dinasti Umayyah sangat fanatik terhadap keturunan Arab (Arab Orientid), tetapi dinasti Abbasiyah lebih bersifat demokratis, meskipun tampuk pemerintahan masih tetap berada di tangan khalifah dari keturunan Arab.
Penyediaan sarana dan prasarana untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.
3.     Terjadinya asimilasi antar bangsa Arab dengan bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu mengalami perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan.
D.  Kemunduran Daulah Bani Abbasyiyah
Kehancuran Dinasti Abbasiyah ini tidak terjadi dengan cara spontanitas, melainkan melalui proses yang panjang yang diawali oleh berbagai pemeberontakan dari kelompok yang tidak senang terhadap kepemimpinan kholifah Abbasiyah. Disamping itu juga, kelemahan kedudukan kekholifahan dinasti Abbasiyah di Baghdad, disebabkan oleh luasnya wilayah kekuasaan yang kurang terkendali, sehingga menimbulkan disintegrasi wilayah.
Di antara kelemahan yang menyebabkan kemunduran Dinasti Abbasiyah adalah sebagai berikut :
a)    Mayoritas Kholifah Abbasiyah periode akhir lebih mementingkan urusan pribadinya dan cenderung hidup mewah.
b)    Luasnya wilayah kekuasaan Abbasiyah, sementara komunikasi pusat dengan daerah sulit dilakukan.
c)     Semakin kuatnya pengaruh keturunan Turki dan Persia, yang menimbulkan ketersinggungan bagi bangsa Arab murni.
d)    Permusuhan antara kelompok suku dan agama.
e)    Perang Salib yang berlangsung beberapa gelombang dan menelan banyak korban.
f)      Penyerbuan tentara Mongol di bawah pimpinan Panglima Hulagu Khan yang menghacurleburkan kota Baghdad.

E.  Kesimpulan
·       Zaman pemerintahan Bani Abbas (Daulah Abbasiyah) merupakan zaman keemasan Islam dalam sepanjang sejarah peradaban Islam. Hal ini ditandai dengan berkembang pesatnya Ilmu Pengetahuan Agama dan Syari’at, seperti Ilmu Tafsir, Ilmu Qira’at, Hadits, Fiqh, Bahasa dan Retorika, Ilmu Kalam, Ilmu Sastra maupun ilmu-ilmu pengetahuan lainnya, seperti Filsafat, Kedokteran, ilmu administrasi, Ilmu Teknik, Matematika, farmasi dan Kimia, Astronomi, Sejarah dan Geografi, Ilmu Optik dan lain-lain.
·       Faktor-faktor berkembangnya ilmu pengetahuan agama dan syari’at di masa pemerintahan Bani Abbas, adalah
Ø  Para penguasanya cinta kepada ilmu dan banyak memberikan motivasi kepada para ilmuan untuk pengembangan ilmu pengetahuan terutama ilmu pengetahuan agama.
Ø  Sikap dan kebijaksanaan politik yang kondusif.
Ø  Penyediaan sarana dan prasarana yang memadai untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.
F.  Hikmah Mempelajari Sejarah Pertumbuhan llmu Pada Masa Bani Abbasyiyah
ü  Meningkatkan keimanan kepada Allah SWT dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
ü  Menumbuhkan semangat menuntut ilmu baik ilmu agama maupun ilmu dunia seperti yang telah dicontohkan oleh para cendekiawan Islam dalam mengembangkan nilai-nilai kebudayaan yang sesuai dengan ajaran islam.
ü  Membina rasa persatuan dan kesatuan umat islam dan kerukunan beragama di seluruh dunia yang tidak membeda-bedakan suku, bangsa, negara, warna kulit, dan lain sebagainya.

Rabu, 07 Januari 2015

Konsep-Konsep Dasar Sejarah

Pendahuluan
Sejarah (bahasa Yunani: ἱστορία, historia, yang berarti "penyelidikan dan pengetahuan yang diperoleh melalui penelitian") adalah studi tentang peristiwa masa lalu, khususnya bagaimana kaitannya dengan kehidupan manusia. Dalam arti sempit, sejarah adalah segala sesuatu yang terjadi di masa lampau. Sebagai sebuah ilmu, sejarah adalah pengetahuan yang tersusun secara sistematis tentang berbagai kejadian atau peristiwa pada masa lampau dalam kehidupan manusia yang dipelajari melalui berbagai sumber dan bukti, baik berupa tulisan maupun benda-benda atau monumen-monumen. Singkatnya, sejarah adalah segala sesuatu yang telah dialami oleh manusia pada masa lalu, yang dapat dipelajari melalui bikti-bukti tertulis maupun tidak tertulis. Para sarjana yang menulis tentang sejarah disebut ahli sejarah atau sejarawan. Peristiwa yang terjadi sebelum catatan tertulis disebut prasejarah.
Sejarah juga dapat mengacu pada bidang akademis yang menggunakan narasi untuk memeriksa dan menganalisis urutan peristiwa masa lalu, dan secara objektif menentukan pola sebab dan akibat yang menentukan mereka. Ahli sejarah terkadang memperdebatkan sifat sejarah dan kegunaannya dengan membahas studi tentang ilmu sejarah sebagai tujuan itu sendiri dan sebagai cara untuk memberikan "pandangan" pada permasalahan masa kini.
Cerita umum untuk suatu budaya tertentu, tetapi tidak didukung oleh pihak luar biasanya diklasifikasikan sebagai warisan budaya atau legenda, karena mereka tidak mendukung "penyelidikan tertarik" yang diperlukan dari disiplin sejarah. Herodotus, abad ke-5 SM ahli sejarah Yunani dalam masyarakat Barat dianggap sebagai "bapak sejarah", dan, bersama dengan kontemporer Thucydides, membantu membentuk dasar bagi studi modern sejarah manusia. Kiprah mereka terus dibaca hari ini dan kesenjangan antara budaya Herodotus dan Thucydides militer yang berfokus tetap menjadi titik pertikaian atau pendekatan dalam penulisan sejarah modern.
Pengaruh kuno telah membantu penafsiran varian bibit sifat sejarah yang telah berkembang selama berabad-abad dan terus berubah hari ini. Studi modern sejarah mulai meluas, dan termasuk studi tentang daerah tertentu dan studi topikal tertentu atau unsur tematik dalam penyelidikan sejarah. Seringkali sejarah diajarkan sebagai bagian dari pendidikan dasar dan menengah, dan studi akademis sejarah adalah ilmu utama dalam penelitian di Universitas.
Etimologi
Kata sejarah secara harfiah berasal dari kata Arab (شجرة: šyajaratun) yang artinya pohon. Sebuah pohon pasti memiliki cabang-cabang yang saling berhubungan. Dari hubungan-hubungan tersebut kita dpat menelusuri dari mana cabang-cabang itu  berasal (daun, ranting, cabang, batang, hingga akar). Cabang-cabang yang saling berhubung tersebut kemudian mengilhami pembuatan silsilah atau kronologi untuk memudahkan penelusuran sebuah peristiwa. Dengan demikian, melalui sejarah, seseorang dapat menulusuri dan mengetahui kronologi dan detail suatu peristiwa masa lalu dari berbagai bukti yang ada di masa kini.
Kata Sejarah lebih dekat pada bahasa Yunani yaitu historia yang berarti ilmu atau orang pandai. Kemudian dalam bahasa Inggris menjadi history, yang berarti masa lalu manusia. Kata lain yang mendekati acuan tersebut adalah Geschichte yang berarti sudah terjadi. Dalam istilah bahasa-bahasa Eropa, asal-muasal istilah sejarah yang dipakai dalam literatur bahasa Indonesia itu terdapat beberapa variasi, meskipun begitu, banyak yang mengakui bahwa istilah sejarah berasal-muasal, dalam bahasa Yunani historia. Dalam bahasa Inggris dikenal dengan history, bahasa Prancis historie, bahasa Italia storia, bahasa Jerman geschichte, yang berarti yang terjadi, dan bahasa Belanda dikenal gescheiedenis.

Pengertian Sejarah Menurut Para Ahli
·         Mohammad Yamin
Sejarah adalah suatu ilmu pengetahuan yang disusun atas hasil penyelidikan beberapa peristiwa yang dapat dibuktikan dengan bahan kenyataan.
·         Roeslan Abdulgani
Ilmu sejarah adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan yang meneliti dan menyelidiki secara sistematis keseluruhan perkembangan masyarakat serta kemanusiaan di masa lampau beserta kejadian-kejadian dengan maksud untuk kemudian menilai secara kritis seluruh hasil penelitiannya tersebut, untuk selanjutnya dijadikan perbendaharaan pedoman bagi penilaian dan penentuan keadaan sekarang serta arah proses masa depan.
·         Ibnu Khaldun
Sejarah didefinisikan sebagai catatan tentang masyarakat umum manusia atau peradaban manusia yang terjadi pada watak/ sifat masyarakat itu.
·         H.W. Walsh
Sejarah itu menitikberatkan pada pencatatan yang berarti dan penting saja bagi manusia. Catatan itu meliputi tindakan-tindakan dan pengalaman-pengalaman manusia di masa lampau pada hal-hal yang penting sehingga merupakan cerita yang berarti.
·         Patrick Gardiner
Sejarah adalah ilmu yang mempelajari apa yang telah diperbuat oleh manusia.
Dari beberapa uraian di atas dibuat kesimpulan sederhana bahwa sejarah adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari segala peristiwa atau kejadian yang telah terjadi pada masa lampau dalam kehidupan umat manusia. Dalam kehidupan manusia, peristiwa sejarah merupakan suatu peristiwa yang abadi, unik, dan penting. Peristiwa yang abadi merupakan peristiwa sejarah tidak berubah-ubah dan tetap dikenang sepanjang masa dan peristiwa yang unik merupakan peristiwa sejarah hanya terjadi satu kali dan tidak pernah terulang persis sama untuk kedua kalinya sedangkan peristiwa yang penting merupakan peristiwa sejarah mempunyai arti dalam menentukan kehidupan orang banyak.
Sejarah dari berbagai Sudut Pandang
1.    Sejarah sebagai peristiwa
Sejarah sebagai peristiwa diartikan sebagai peristiwa masa lampau manusia yang benar-benar terjadi, sehingga hanya terjadi satu kali saja, yaitu pada saat kejadiannya sedang berlangsung, sehingga tidak mungkin terjadi lagi pada masa-masa selanjutnya. Kejadian masa lampau tersebut dapat dijadikan dasar untuk mengetahui dan merekonstruksi kehidupan pada masa tersebut. Dari peristiwa-peristiwa itu, dapat diketahui sebab akibat terjadinya suatu peristiwa. Tanpa memandang besar kecilnya suatu peristiwa atau kejadian-kejadian dalam ruang lingkup kehidupan manusia, ilmu sejarah berusaha menyusun rangkaian peristiwa yang terjadi dalam ruang lingkup kehidupan manusia sejak dahulu sampai sekarang, bahkan prediksi kejadian yang akan datang.
  Ciri utama dari sejarah sebagai peristiwa adalah sebagai berikut.
·         Abadi
Sebuah peristiwa yang sudah terjadi dan tidak akan berubah ataupun diubah. Oleh karena itulah maka peristiwa tersebut atas tetap dikenang sepanjang masa.
·         Unik
Peristiwa itu hanya terjadi satu kali. Peristiwa tersebut tidak dapat diulang jika ingin diulang tidak akan sama.


·         Penting
Peristiwa yang terjadi mempunyai banyak arti bagi seseorang bahkan dapat pula menentukan kehidupan orang banyak.
Tidak semua peristiwa dapat dikatakan sebagai sejarah. Sebuah kenyataan sejarah dapat diketahui melalui bukti-bukti sejarah yang dapat menjadi saksi terhadap peristiwa yang telah terjadi. Agar sebuah peristiwa dapat dikatakan sebagai sejarah maka harus memenuhi persyaratan berikut ini.
Ø  Peristiwa tersebut berhubungan dengan kehidupan manusia baik sebagai individu maupun kelompok.
Ø  Memperhatikan dimensi ruang dan waktu (kapan dan dimana).
Ø  Peristiwa tersebut dapat dikaitkan dengan peristiwa yang lain.
Ø  Adanya hubungan sebab-akibat dari peristiwa tersebut baik karena faktor dari dalam maupun dari luar peristiwa tersebut.
Ø  Peristiwa sejarah yang terjadi merupakan sebuah perubahan dalam kehidupan dari berbagai aspek kehidupan seperti politik, sosial, ekonomi, dan budaya.

2.    Sejarah sebagai kisah
Membicarakan sejarah sebagai kisah tidak lepas dari peristiwa-peristiwa sejarah yang terjadi pada masa lampau. Sejarah sebagai kisah adalah hasil karya, cipta, dan penelitian berbagai ahli yang kemudian menulisnya. Penulisan yang dapat dipertanggungjawabkan harus melalui penafsiran yang mendekati kebenaran peristiwa yang terjadi. Sementara itu, untuk merekonstruksi kisah sejarah harus mengikuti metode analisis serta pendekatan tertentu. Dengan kata lain, sejarah sebagai kisah adalah kejadian masa lalu yang diungkapkan kembali berdasarkan penafsiran dan interpretasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Dalam penyusunan sejarah sebagai kisah, para sejarawan menggunakan dasar jejak-jejak yang ditinggalkan oleh sejarah sebagai peristiwa. Jejak-jejak sejarah yang berisi kehidupan rangkaian peristiwa atau kejadian dalam lingkup kehidupan manusia menjadi sumber penting dalam penulisan kisah sejarah.
  Faktor yang harus diperhatikan dan mempengaruhi dalam melihat sejarah sebagai kisah, adalah sebagai berikut
ü  Kepentingan yang diperjuankan
Faktor kepentingan dapat terlihat dalam cara seseorang menuliskan dan menceritakan kisah/peristiwa sejarah. Kepentingan tersebut dapat berupa kepentingan pribadi maupun kepentingan kelompok.
ü  Perbendaharaan Pengetahuan
Pengetahuan dan latar belakang kemampuan ilmu yang dimiliki penulis sejarah juga mempengaruhi kisah sejarah yang disampaikan. Hal tersebut dapat terlihat dari kelengkapan kisah yang akan disampaikan, gaya penyampaian, dan interpretasinya atas peristiwa sejarah yang akan dikisahkan.
ü  Kemampuan Bahasa
Pengaruh kemampuan bahasa seorang penutur/pencerita sejarah sebagai kisah terlihat dari hasil rekonstruksi penuturan kisah sejarah. Hal ini akan sangat bergantung pada kemampuan bahasa si penutur kisah sejarah.
3.    Sejarah sebagai ilmu dan seni
Sejarah dikatakan sebagai ilmu karena merupakan pengetahuan masa lampau yang disusun secara sistematis dengan metode kajian secara ilmiah untuk mendapatkan kebenaran mengenai peristiwa masa lampau. Sejarah sebagai ilmu mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
v  Empiris: Diperoleh melalui penemuan dan pengamatan yang dilakukan berdasarkan fakta-fakta sejarah yang ada.
v  Mempunyai 2 objek, yaitu objek material dan formal. Objek material meliputi manusia dan objek formal meliputi aktivitas manusia yang pernah terjadi dalam suatu rentang waktu di masa lampau.
v  Memiliki teori yang meliputi kaidah-kaidah pokok sebagai suatu ilmu, seperti teori kehidupan masyarakat prasejarah Indonesia, teori masuknya agama hindu-buddha dan islam di Indonesia, dan lain-lain.
v  Metode: Sejarah mempunyai metode tersendiri dalam penelitiannya maupun penulisanya yang meliputi heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi.
Sejarah sebagai seni maksudnya menulis sebuah kisah peristiwa sejarah tidaklah mudah, karena memerlukan imajinasi dan seni. Selain itu, penulisan kisah sejarah harus menggunakan bahasa yang indah, komunikatif, menarik, dan isinya mudah dimengerti. Dengan demikian, diperlukan seni dalam penulisan sejarah sehingga tercipta suatu peristiwa sejarah yang dapat dipelajari secara urut, lengkap, menarik, dan tidak membosankan. Oleh karena itu, seorang sejarawan harus bersedia menjadi ahli seni untuk menghidupkan kembali kisah kehidupan di masa lalu, masa sekarang, dan yang akan datang. Dengan demikian selain elemen ilmiah sejarah juga mengandung elemen seni.
Fungsi Ilmu Sejarah
·         Sejarah Sebagai Pelajaran
Sejarah memberikan pelajaran, seringkali kita mendengar ucapan” belajarlah dari sejarah”. Dengan mempelajari sejarah seseorang atau suatu bangsa, akan bercermin dan menilai peristiwa-peristiwa masa lampau yang merupakan keberhasilan/prestasi dan peristiwa-peristiwa masa lampau yang merupakan kegagalan. Peristiwa-peristiwa sejarah pada masa lampau, baik yang positif maupun negatif dijadikan hikmah. Untuk nilai-nilai positif yakni keberhasilan-keberhasilan kita pertahankan dan kita tingkatkan, sebaliknya untuk nilai-nilai negatif, kesalahan-kesalahan masa silam tidak terulang lagi. Dengan ini jelas bahwa sejarah memberikan pelajaran yang dapat memberikan kearifan dan kebijaksanaan bagi yang mempelajarinya.
·         Sejarah Sebagai Inspirasi
Inspirasi berarti memberikan ilham atau semangat yang berkaitan dengan pelajaran sejarah tentang semangat nasionalisme dan patriotisme. Dapat juga dikatakan sejarah berfungsi untuk menumbuhkan semangat nasionalisme, cinta bangsa dan tanah air. Fungsi sejarah ini sangat disadari terutama dalam hal yang disebut nation building misalnya ingin melestarikan nilai-nilai perjuangan 1945 seperti persatuan dan kesatuan, rela berkorban, berjuang tanpa pamrih, semangat gotong royong dan sebagainya. Dengan demikian, belajar sejarah akan memperkukuh rasa kebangsaan, cinta bangsa, dan tanah air.
·         Sejarah Memberikan Kesadaran Waktu
Kesadaran waktu yang dimaksud adalah kehidupan dengan segala perubahan, pertumbuhan, dan perkembangannya terus berjalan melewati waktu. Kesadaran itu dikenal juga sebagai kesadaran akan adanya gerak sejarah. Kesadaran tersebut memandang peristiwa-peristiwa sejarah sebagai sesuatu yang terus bergerak dari masa silam bermuara ke masa kini dan berlanjut ke masa depan.
Waktu terus berjalan pada saat seorang atau suatu bangsa mulai menjadi tua dan digantikan oleh generasi berikutnya. Bahkan waktu terus berjalan pada saat seseorang atau suatu bangsa hanya bersenang-senang dan bermalas-malasan, atau sebaliknya, seseorang atau suatu bangsa sedang membuat karya-karya besar. Dengan memiliki kesadaran sejarah yang baik, seseorang akan senantiasa berupaya mengukir sejarah kehidupannya sebaik-baiknya.
Karakteristik Sejarah
Unsur terpenting dari sejarah adalah kejadian masa lalu, maka yang menjadi konsep dasar sejarah adalah waktu (time), ruang (space), kegiatan manusia (human activities), perubahan (change) dan kesinambungan (continuity). Adapun karakteristik dari ilmu sejarah diantaranya adalah:
a.    Sejarah terkait dengan peristiwa masa lampau sehingga materi pokok pembelajaran sejarah adalah produk masa kini dalam bentuk rekontruksi peristiwa peristiwa masa lampau berdasarkan sumber-sumber yang ada.
b.    Bersifat kronologi. Maksudnya dalam mengorganisasikan materi pembelajaran harus berdasarkan urutan waktu kejadian.
Dalam sejarah terdapat 3 unsur pokok, yaitu manusia, ruang dan waktu. Oleh karena itu, sejarah erat hubungannya dengan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan what (apa), who (siapa), when (kapan), where (dimana), why (mengapa), dan how (bagaimana). Roeslan Abdul Ghani mengatakan bahwa ilmu sejarah ibarat penglihatan terhadap tiga dimensi, yaitu pertama penglihatan ke masa silam, kedua ke masa sekarang dan ketiga ke masa depan (to study history is to study the past to built the better future).
Perspektif waktu dalam sejarah adalah waktu lampau yang terus berkesinambungan, dimana waktu dilihat sebagai sebuah garis linier (lurus) . dengan demikian sejarah di lihat sebagai sebuah sebuah proses yang terus berjalan dari masa lampau - masa kini - masa yang akan datang. Sejarah merupakan prinsip sebab akibat antara fakta yang satu dengan yang lainnya, antara peristiwa yang satu dengan lainnya merupakan sebuah rangkaian yang tidak terpisah-pisah, peristiwa sejarah yang satu di akibatkan atau disebabkan oleh peristiwa sejarah yang lain.
Hubungan Sejarah dengan Ilmu Sosial Lainnya
Hubungan Sejarah dengan Ilmu Politik
Ilmu politik dalam perkembangannya sangat dibantu oleh Sejarah dan Filsafat. Dua kajian ini turut mengembangkan kajian ilmu politik baik dari segi pencarian konsepsi fundamental maupun penelusuran titik-titik penemuan data dan fakta dan masa-masa sebelumnya. Dalam buku pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah Sartono menuliskan “Politik adalah sejarah masa kini dan sejarah adalah politik masa lampau. Sejarah identik dengan politik, sejauh keduanya menunjukkan proses yang mencakup keterlibatan para aktor dalam interaksi dan peranannya dalam usaha memperoleh apa, kapan dan bagaimana.”
Hubungan Sejarah dengan Ilmu Ekonomi
Ilmu ekonomi dan Sejarah itu sama-sama termasuk kedalam ilmu sosial, yaitu ilmu yang membahas interaksi manusia dan lingkungannya. itulah kenapa di SMP, pelajaran ekonomi dan sejarah itu digabung. karena berasal dari rumpun ilmu yang sama, terkadang materinya pun berkaitan bahkan terkadang tumpang-tindih. Misalnya, pada materi perdagangan internasional, di sejarah juga  ada. di sejarah disebutkan bahwa bangsa eropa pergi ke indonesia utk mencari rempah-rempah. Dengan belajar dari masa lalu (sejarah) kita juga dapat belajar supaya perekonomian dapat lebih baik.
Banyak kebijakan pemerintah kolonial di masa lalu yang dilandasi oleh kepentingan ekonomi. Misalnya, untuk memahami sejarah perdagangan rempah-rempah di Nusantara pada abad ke XVI sampai abad XVIII ,maka tidak dapat dipisahkan dari peran kongsi dagang Hindia Belanda Timur yakni VOC  ( Verenigde Oost Indische Compagnie).

Hubungan Sejarah dengan Ilmu Antropologi
Antropologi sebagai salah satu dari ilmu sosial memiliki kaitan dan sumbangan kepada ilmu sejarah begitu juga sebaliknya. Dalam penulisan sejarah, sejarawan tidak jarang menggunakan teori dan konsep ilmu sosial lain, termasuk antropologi. Sejarawan banyak meminjam konsep antropologi diantaranya ialah, simbol, sistem kepercayaan, folklore, tradisi besar, tradisi kecil, enkulturasi, inkulturasi, primitif, dan agraris. Sementara itu, sumbangan Ilmu sejarah terhadap antropologi adalah, sejarah sebagai kritik, permasalahan sejarah, dan pendekatan sejarah.
Titik temu antara Antropologi budaya dan sejarah sangatlah jelas. Keduanya mempelajari tentang manusia. Bila sejarah menggambarkan kehidupan manusia dan masyarakat pada masa lampau, maka gambaran itu juga mencakup unsur-unsur kebudayaannya. Unsur-unsur itu antara lain, kepercayaan, mata pencaharian, dan teknologi. Hasil rekonstruksi yang memadukan antara sejarah dan antropologi menghasilkan karya sejarah kebudayaan.

Hubungan Sejarah Dengan Ilmu Sosiologi
Sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang masyarakat dan aspek-aspek dinamis yang ada didalamnya, secara tidak langsung kita dapat menemukan bahwa objek kajian antara sosiologi dan sejarah tidak jauh berbeda, namun sejarah membatasinya dengan konsep ruang dan waktu. Sebagai sesama ilmu sosial yang kajiannya tidak jauh berbeda maka tidak sulit kita menemukan hubungan-hubungan keilmuan antara sejarah dan sosiologi Pada beberapa dasawarsa terakhir ini banyak sekali hasil-hasil penelitian sosiologi berupa studi sosiologis yang memfokuskan studinya pada gejala-gejala sosial yang terjadi dimasa lampau (Supardan, 2008:325). Dengan memasukkan konsep ruang tadi maka dapat kita lihat bahwa kajian tersebut jelas menggunakan beberapa konsep dari sejarah untuk menjelaskan studi tersebut.
Sejarawan juga terkadang melakukan pendekatan sosilogis dalam melakukan penlitian, bahkan biasanya dikatakan mulai terdapat kecendrungan penulisan sejarah, dari yang bersifat konvensional dan naratif kepada penulisan sejarah dengan kompleksitas tinggi, dimana sejarah dan ilmu-ilmu sosial lainnya saling berketergantungan dalam melakukan sebuah pembahasan masalah.
Klasifikasi
Karena lingkup sejarah sangat besar, perlu klasifikasi yang baik untuk memudahkan penelitian. Bila beberapa penulis seperti H.G. Wells, Will Durant, dan Ariel Durant menulis sejarah dalam lingkup umum, kebanyakan sejarawan memiliki keahlian dan spesialisasi masing-masing.
Ada banyak cara untuk memilah informasi dalam sejarah, antara lain:
  • Berdasarkan kurun waktu (kronologis).
  • Berdasarkan wilayah (geografis).
  • Berdasarkan negara (nasional).
  • Berdasarkan kelompok suku bangsa (etnis).
  • Berdasarkan topik atau pokok bahasan (topikal).
Dalam pemilahan tersebut, harus diperhatikan bagaimana cara penulisannya seperti melihat batasan-batasan temporal dan spasial tema itu sendiri. Jika hal tersebut tidak dijelaskan, maka sejarawan mungkin akan terjebak ke dalam falsafah ilmu lain.
Dasar-Dasar Penulisan Sejarah
1.    Metode Penelitian dan Penulisan Sejarah

a.    Heuristik
Kata Heuristik berasal dari bahasa yunani, yaitu heursken (menemukan). Dalam penelitian sejarah, heuristik berarti langkah-langkah untuk mencari dan mengumpulkan berbagai sumber sejarah. Untuk mendapatkan sumber tersebut dapat dilakukan dengan cara mencari dokumen-dokumen sejarah, mengunjungi situs sejarah, mengujungi museum dan perpustakaan, dan mewawancarai para  pelaku atau saksi sejarah.
b.    Verifikasi
Berbagai sumber sejarah yang telah dikumpulkan belum tentu semuanya dapat diterima, langkah berikutnya adalah menyeleksi atau menguji kebenaran dari sumber-sumber tesebut, langkah itu dinamakan verifikasi. Verifikasi terbagi atas verifikasi intern dan ekstern. Verifikasi ekstern adalah verifikasi terhadap keaslian sumber sejarah diantaranya dapat dilakukan dengan berdasarkan kepada tipologi (menentukan usia berdasarkan tipe dari benda budaya), stratifikasi (menentukan umur relatif suatu benda berdasarkan pada lapisan tanah dimana benda budaya tersebut ditemukan ), dan kimiawi (menentukan ketuaan benda berdasarkan pada unsur kimia yang terkandung). 
Verifikasi intern adalah langkah penyeleksian terhadap isi (materi) dari sumber sejarah (seperti isi prasasti, isi naskah/ dokumen, dll) atau langkah terhadap validitas isi (materi) sumber sejarah. Misalnya sebuah kitab kuno baru dapat di percaya kebenarannya apabila ada keterangan dari beberapa prasasti, atau catatan sejarah yang mendukungnya. Sumber sejarah yang telah terseleksi melalui verifikasi itulah disebut dengan fakta.
c.    Interpretasi
Berbagai fakta sejarah yang telah didapatkan kemudian dirangkai sehingga mempunyai bentuk dan struktur untuk direkrontruksi. Dalam proses inilah di perlukan interpretasi, yaitu penafsiran terhadap fakta-fakta sejarah. Dalam menafsirkan suatu fakta mutlak diperlukan landasan interpretasi agar tidak terjadi penafsiran yang tanpa dasar. Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya perbedaan dalam menafsirkan suatu fakta di antaranya karena adanya beberapa perbedaan seperti ideologi, kepentingan, tujuan, penulisan dan sudut pandang.
d.    Historiografi
Merupakan langkah terakhir yaitu proses penulisan dan penyusunan kisah masa lampau yang direkrontruksi berdasarkan pada fakta yang telah diberi penafsiran peristiwa sejarah yang dikisahkan. Melalui historiografi akan sangat di pengaruhi oleh subjektifitas si penulis dalam merekontruksinya.
Dalam penulisan sejarah perlu dipertimbangkan struktur dan gaya bahasanya sehingga orang tertarik untuk membacanya. Dengan demikian penulisan sejarah mempunyai unsur yang sama dengan penulisan sastra yaitu sama-sama menyajikan suatu kisah.
e.    Sumber-Sumber Sejarah
Dalam penelitian sejarah, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengumpulkan berbagai sumber. Sumber sejarah terbagai menjadi 3 yaitu.
Ø  Sumber tertulis (dokumen) yang meliputi catatan-catatan penting peristiwa masa lalu, seperti kronik, babad, naskah, arsip, dll.
Ø  Sumber benda (artefak) yang meliputi benda-benda peninggalan peristiwa masa lalu, seperti fosil, prasasti, candi, patung, stupa, nisan, dll.
Ø  Sumber lisan yang diperoleh dari narasumber pelaku sejarah atau garis keturunan pelaku sejarah.

f.     Ilmu-ilmu yang membantu penulisan sejarah
Sumber sejarah adalah sesuatu hal yang sangat penting dalam merekontruksi peristiwa sejarah. Sumber sejarah merupakan segala jejak yang ditinggalkan dan tentunya memiliki nilai informasi berharga terkait dengan objek yang direkonstruksi. Karena sejarawan dihadapkan dengan ragam jejak masa lalu, maka sulit baginya untuk mengkaji sumber-sumber itu bila hanya mengandalkan ilmu sejarahnya. Keterbatasan sejarawan menjangkau semua sumber-sumber itu membuatnya harus mencari alternatif lain yang dapat memudahkan pekerjaan rekonstruksinya. Oleh karena itu, pada tahap inilah sejarah butuh ilmu lain sebagai ilmu bantu. Penggunaan ilmu-ilmu bantu ini tergantung pada pokok-pokok atau periode sejarah yang dipelajari. Adapun ilmu-ilmu bantu yang merupakan pendukung sejarah itu dalam Bahasa Inggris disebut auxiliary sciences.
Berikut ini ilmu-ilmu yang membantu penulisan sejarah.
·         Paleontologi
Ilmu yang mengkaji bentuk-bentuk kehidupan purba yang pernah hadir di muka bumi terutama fosil. Kata fosil berasal dari bahasa Yunani fissilis yang artinya sesuatu yang digali dan dikeluarkan dari dalam tanah. Jadi fosil adalah sisa-sisa binatang dan tumbuhan yang terpendam di dalam tanah selama ratusan juta tahun dan tetap terpelihara bentuknya.
·         Arkeologi
Arkeologi adalah kajian ilmiah  mengenai hasil budaya prasejarah dan sejarah melalui penggalian (ekskavasi). Beberapa kelompok benda-benda arkeologi adalah sebagai berikut.
ü  Semua benda buatan manusia dengan tujuan untuk kepentingan manusia. Umumnya benda ini mudah untuk dipindah-pindah seperti manik-manik, kapak batu dan lain-lain.
ü  Bangunan tempat pemukiman yang sulit dipindahkan.
ü  Ekofak yaitu objek alamiah yang ikut tertimbun bersama-sama artefak dan bangunan seperti sisa makanan kulit kerang.
Ilmu sejarah sangat terbantu dengan arkeologi karena kajian ini sangat membantu dalam memberikan informasi tentang di mana dan bagaimana kebudayaan atau suatu peradaban yang tinggi bisa tumbuh, berkembang dan akhirnya runtuh. Di Amerika Serikat ilmu arkeologi merupakan cabang antropologi sedang di Eropa arkeologi termasuk dari ilmu sejarah.
·         Paleoantropologi
Paleoantropologi mempunyai kajian berbeda dengan paleontologi. Objek kajian paleoantropologi adalah mempelajari fosil manusia purba. Ilmu ini berusaha mengkaji, merekonstruksi asal usul manusia, evolusinya, persebarannya, lingkungannya, cara hidup dan budayanya. Fosil-fosil manusia ditemukan pada kala pleistosen.
Di Indonesia kajian manusia purba telah banyak dilakukan oleh sarjana Eropa sejak akhir abad 19. Eugene Dubois menemukan tulang rahang di daerah Trinil tepi Bengawan Solo. Setelah direkonstruksi fosil itu diberi nama Pithecantropus Erectus yang artinya manusia kera berdiri tegak.  GHR. Von Koeningswald yang berhasil merekonstruksi fosil Homo Soloensis (Manusia Solo), Pithecantropus Mojokertensis (Manusia kera dari Mojokerto) dan Meganthropus Paleojavanicus (Manusia besar Jawa purba).
·         Epigrafi
Epigrafi hampir mirip dengan Paleografi. Epigrafi lebih fokus ke objek tempat menulis. Epigrafi adalah pengetahuan tentang cara membaca, menentukan waktu dan menganalisis tulisan atau inskripsi pada benda-benda yang bertahan lama seperti batu, logam atau gading. Secara sederhana Epigrafi adalah ilmu membaca prasasti.
·         Etnografi
Etnografi adalah cabang dari antropologi yang menggambarkan tentang kebudayaan suatu masyarakat atau kelompok suku bangsa. Kajian etnografi diawali dengan keheranan orang-orang Eropa terhadap bangsa-bangsa luar Eropa yang mempunyai kebudayaan yang berbeda dengan mereka pada sekitar abad ke-16 M. Etnografi sangat membantu penulisan sejarah suatu etnis yang disebut etnohistory.
g.    Bentuk-bentuk penelitian sejarah
Ø  Penelitian Lapangan
Dalam melakukan penelitian lapangan seorang sejarawan datang ke tempat terjadinya peristiwa bersejarah atau tempat ditemukannya peninggalan-peninggalan bersejarah. Tempat ditemukannya benda-benda bersejarah disebut situs.
Apabila benda-benda bersejarah tersebut masih terpendam di dalam tanah, maka peneliti sejarah harus melakukan penggalian (ekskavasi). Jika seorang peneliti harus mendapatkan keterangan langsung dari pelaku atau saksi sejarah yang masih hidup sebagai sumber lisan, maka peneliti sejarah bisa melakukan metode wawancara (interview).
Setelah artefak berhasil diangkat dari dalam tanah, peneliti sejarah kemudian melakukan pendataan lalu identifikasi dan deskripsi terhadap penemuan-penemuannya tersebut. Jika dirasa perlu maka benda-benda penemuan itu akan dibawa ke laboratorium untuk dilakukan penelitian yang lebih cermat.
Ø  Penelitian Kepustakaan
Penelitian kepustakaan disebut juga penelitian dokumenter. Dalam melakukan penelitian kepustakaan seorang peneliti sejarah memfokuskan perhatiannya untuk memperoleh data-data tertulis (dokumen) yang disimpan di museum atau perpustakaan seperti kronik (berita), kitab-kitab kuno, arsip-arsip, surat kabar dari zaman awal kemerdekaan, autobiografi, naskah pidato, rekaman video, dan sebagainya.
Untuk mendapatkan informasi yang benar dari sumber-sumber sejarah yang ada, maka seorang peneliti dapat melakukan studi komparatif, yaitu membandingkan sumber yang satu dengan sumber lain tentang suatu hal.
Belajar dari Sejarah
Sejarah adalah topik ilmu pengetahuan yang sangat menarik. Tak hanya itu, sejarah juga mengajarkan hal-hal yang sangat penting, terutama mengenai keberhasilan dan kegagalan dari para pemimpin kita, sistem perekonomian yang pernah ada, bentuk-bentuk pemerintahan, dan hal-hal penting lainnya dalam kehidupan manusia sepanjang sejarah. Dari sejarah, kita dapat mempelajari apa saja yang memengaruhi kemajuan dan kejatuhan sebuah negara atau sebuah peradaban. Kita juga dapat mempelajari latar belakang alasan kegiatan politik, pengaruh dari filsafat sosial, serta sudut pandang budaya dan teknologi yang bermacam-macam sepanjang zaman.
Kesimpulan
Kata sejarah secara harfiah berasal dari kata Arab (شجرة: šyajaratun) yang artinya pohon. Sebuah pohon pasti memiliki cabang-cabang yang saling berhubungan. Dari hubungan-hubungan tersebut kita dpat menelusuri dari mana cabang-cabang itu  berasal (daun, ranting, cabang, batang, hingga akar). Cabang-cabang yang saling berhubung tersebut kemudian mengilhami pembuatan silsilah atau kronologi untuk memudahkan penelusuran sebuah peristiwa. Dengan demikian, melalui sejarah, seseorang dapat menulusuri dan mengetahui kronologi dan detail suatu peristiwa masa lalu dari berbagai bukti yang ada di masa kini.
Sejarah adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari segala peristiwa atau kejadian yang telah terjadi pada masa lampau dalam kehidupan umat manusia. Dalam kehidupan manusia, peristiwa sejarah merupakan suatu peristiwa yang abadi, unik, dan penting. Peristiwa yang abadi merupakan peristiwa sejarah tidak berubah-ubah dan tetap dikenang sepanjang masa dan peristiwa yang unik merupakan peristiwa sejarah hanya terjadi satu kali dan tidak pernah terulang persis sama untuk kedua kalinya sedangkan peristiwa yang penting merupakan peristiwa sejarah mempunyai arti dalam menentukan kehidupan orang banyak.
Ilmu Sejarah dari berbagai sudut pandang antara lain sejarah sebagai peristiwa, sebagai kisah, sebagai ilmu dan seni. Sejarah sebagai peristiwa diartikan sebagai peristiwa masa lampau manusia yang terjadi hanya satu kali saja. Sejarah sebagai kisah merupakan hasil karya, cipta, dan penelitian dari berbagai ahli yang kemudian menulisnya. Sejarah dikatakan sebagai ilmu karena merupakan pengetahuan masa lampau yang disusun secara sistematis dengan metode kajian secara ilmiah untuk mendapatkan kebenaran mengenai peristiwa masa lampau. Sejarah sebagai seni maksudnya penulisan kisah sejarah harus menggunakan bahasa yang indah, komunikatif, menarik, dan isinya yang mudah dimengerti.
Fungsi Ilmu sejarah antara lain sebagai pelajaran, inspirasi, dan memberikan kesadaran waktu. Sejarah sebagai pelajaran maksudnya dengan mempelajari sejarah, seseorang atau suatu bangsa akan bercermin dan menilai peristiwa-peristiwa masa lampau yang merupakan keberhasilan/prestasi dan peristiwa-peristiwa masa lampau yang merupakan kegagalan. Sejarah sebagai inspirasi yang berarti memberikan inspirasi atau semangat kepada generasi sekarang yang berkaitan dengan pelajaran Sejarah tentang semangat nasionalisme dan patriotisme. Sejarah memberikan kesadaran waktu maksudnya dengan memiliki kesadaran sejarah yang baik, seseorang akan senantiasa berupaya mengukir sejarah kehidupannya sebaik-baiknya.
Karakteristik dari Ilmu Sejarah antara lain Sejarah terkait dengan peristiwa masa lampau sehingga materi pokok pembelajaran sejarah adalah produk masa kini dalam bentuk rekontruksi peristiwa peristiwa masa lampau berdasarkan sumber-sumber yang ada dan bersifat kronologi. Maksudnya dalam mengorganisasikan materi pembelajaran Sejarah harus berdasarkan urutan waktu kejadian.
Dalam Ilmu Sejarah terdapat klasifikasi untuk memilah informasi dalam peristiwa sejarah antara lain berdasarkan kurun waktu (kronologis), wilayah (geografis), negara (nasional), suku bangsa (etnis), dan topik atau pokok bahasan (topikal).
Metode penelitian sejarah terdiri dari heuristik yang berarti langkah-langkah untuk mencari dan mengumpulkan berbagai sumber sejarah yang relevan dengan judul penelitian, verifikasi yang artinya menyeleksi atau menguji kebenaran dari sumber-sumber tesebut yang meliputi aspek ekstern maupun intern, interpretasi yaitu penafsiran terhadap fakta-fakta sejarah, dan historiografi yaitu proses penulisan dan penyusunan kisah masa lampau yang direkrontruksi berdasarkan pada fakta yang telah diberi penafsiran peristiwa sejarah yang dikisahkan.
Dalam penelitian sejarah, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengumpulkan berbagai sumber. Sumber sejarah terbagai menjadi 3 yaitu sumber tertulis (dokumen), sumber benda (artefak), dan sumber lisan.

Ilmu bantu sejarah sangat diperlukan oleh para sejarawan untuk digunakan sesuai dengan topik atau periode yang dikaji serta merupakan alat yang membantu melakukan analisis secara kritis dan ilmiah. Selain itu berguna pula untuk mengembangkan Ilmu Sejarah itu sendiri. Ilmu bantu sejarah yang membantu dalam mengkaji sumber-sumber sejarah yaitu Paleantropologi, Arkeologi, Paleontologi, Etnografi, dan Epigrafi.