PERADABAN
ISLAM
PADA MASA BANI ABABASIYAH
PADA MASA BANI ABABASIYAH
A. Pendahuluan
Sebuah masyarakat (Bani Abbasiyah) yang punya kesadaran yang tinggi akan ilmu, hal ini ditunjukan masyarakat yang sangat antusias dalam mencari ilmu, penghargaan yang tinggi bagi para ulama, para pencari ilmu, tempat-tempat menuntut ilmu, banyaknya perpustakaan-perpustakaan pribadi yang dibuka untuk umum dan juga hadirnya perpustakaan Bayt al-Hikmah yang disponsori oleh khalifah pada waktu yang membantu dalam menciptakan iklim akademik yang kondusif. Tak heran jika kita menemukan tokoh-tokoh besar yang lahir pada masa ini. Tradisi intelektual inilah yang seharusnya kita contoh, sebagai usaha sadar keilmuan kita dalam mengejar ketertinggalan dan segera lepas dari keterpurukan.
Sebuah masyarakat (Bani Abbasiyah) yang punya kesadaran yang tinggi akan ilmu, hal ini ditunjukan masyarakat yang sangat antusias dalam mencari ilmu, penghargaan yang tinggi bagi para ulama, para pencari ilmu, tempat-tempat menuntut ilmu, banyaknya perpustakaan-perpustakaan pribadi yang dibuka untuk umum dan juga hadirnya perpustakaan Bayt al-Hikmah yang disponsori oleh khalifah pada waktu yang membantu dalam menciptakan iklim akademik yang kondusif. Tak heran jika kita menemukan tokoh-tokoh besar yang lahir pada masa ini. Tradisi intelektual inilah yang seharusnya kita contoh, sebagai usaha sadar keilmuan kita dalam mengejar ketertinggalan dan segera lepas dari keterpurukan.
Sejak terbunuhnya Marwan bin Muhammad,
khalifah terakhir dari Dinasti Umayyah oleh seorang pemuda berdarah Persia yang
gagah berani dan cerdas bernama Abu Muslim Al-Khurasani di Fusthath, Mesir pada
bulan Dzulhijjah 132 H bertepatan dengan tahun 750 M, maka berakhirlah
kekuasaan Dinasti Bani Umayyah yang berkuasa kurang lebih 90 tahun. Dan itu
berarti secara resmi sejak itu kekuasaan berpindah ke tangan Bani Abbas yang
kemudian lebih dikenal dengan Daulah Abbasiyah.
Daulah Abbasiyah berkuasa kurang lebih
selama lima abad, yaitu dari tahun 750 M hingga tahun 1258 M. Masa pemerintahan
yang panjang tersebut telah mengukir sejarah keemasan (golden age) dalam
peradaban Islam, terutama pada masa pemerintahan Khalifah Al-Makmun. Ummat
Islam benar-benar berada di puncak kejayaan dan memimpin peradaban dunia saat
itu. Berbagai kemajuan dan perkembangan yang berhasil dicapai selama masa
kekuasaan Daulah Abbasiyah, antara lain :
·
Ekspansi
wilayah kekuasaan dan pengaruh Islam, dari Baghdad sebagai pusat pemerintahan
bergerak ke wilayah Timur Asia Tengah, dari perbatasan India hingga Cina. Ini
terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Al-Mahdi (158-169 H/775-785 M).
·
Kemajuan
dalam bidang ilmu pengetahuan agama dan syari’at.
·
Pembangunan
tempat pendidikan dan tempat peribadatan.
·
Kemajuan
ilmu pengetahuan, sains dan teknologi.
·
Perkembangan
politik, ekonomi dan administrasi
Selain
itu, pada masa Daulah Abbasiyah bermunculan beberapa tokoh Ilmuan Islam,
seperti Al Kindi, Al Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al Ghazali, Al Khawarazimi,
Rayhan Al Bairuni, Ibnu Mansur Al Falaky, At Tabrani, Imam Bukhari, Imam Muslim,
Ibnu Majah, Abu Daud, Jahm Ibnu Sofyan, Washil bin Atha’, Sibawaih, dan
lain-lain. Bahkan para ilmuan barat banyak belajar pada mereka.
Dari
perjalanan dan rentang sejarah, ternyata Bani Abbas dalam sejarah lebih banyak
berbuat ketimbang bani Umayyah. Pergantian Dinasti Umayyah kepada Dinasti
Abbasiyah tidak hanya sebagai pergantian kepemimpinan, lebih dari itu telah
mengubah, menoreh wajah dunia Islam dalam refleksi kegiatan ilmiah.
Pengembangan ilmu pengetahuan pada Bani Abbas merupakan iklim pengembangan
wawasan dan disiplin keilmuan.
B. Pembangunan Daulah Bani Abbasyiyah
Daulah
Bani Abbasiyah diambil dari nama Al-Abbas bin Abdul Mutholib, paman Nabi
Muhammad SAW. Pendirinya ialah Abdullah As-Saffah bin Ali bin Abdullah bin
Al-Abbas, atau lebih dikenal dengan sebutan Abul Abbas As-Saffah. Daulah Bani
Abbasiyah berdiri antara tahun 132 – 656 H / 750 – 1258 M. Lima setengah abad
lamanya keluarga Abbasiyah menduduki singgasana khilafah Islamiyah. Pusat
pemerintahannya di kota Baghdad.
Tokoh
pendiri Daulah Bani Abbasiyah adalah Abul Abbas As-Saffah, Abu Ja’far
Al-Mansur, Ibrahim Al-Imam dan Abu Muslim Al-Khurasani. Bani Abbasiyah
mempunyai kholifah sebanyak 37 orang. Dari masa pemerintahan Abul Abbas
As-Saffah hingga Kholifah Al-Watsiq Billah, agama Islam mencapai zaman
keemasannya (132 – 232 H / 749 – 879 M). Dan pada masa kholifah Al-Mutawakkil
sampai dengan Al-Mu’tashim, Islam mengalami masa kemunduran dan keruntuhan
akibat serangan bangsa Mongol Tartar pimpinan Hulakho Khan pada tahun 656 H /
1258 M.
1.
Peta Daerah Perkembangan Islam Pada
Masa Bani Abbasiyah
Pemerintahan daulah Bani Abbasiyah merupakan kelanjutan dari pemerintahan daulah Bani Umayyah yang telah hancur di Damaskus. Meskipun demikian, terdapat perbedaan antara kekuasaan dinasti Bani Abbasiyah dengan kekuasaan dinasti Bani Umayyah, diantaranya adalah :
Pemerintahan daulah Bani Abbasiyah merupakan kelanjutan dari pemerintahan daulah Bani Umayyah yang telah hancur di Damaskus. Meskipun demikian, terdapat perbedaan antara kekuasaan dinasti Bani Abbasiyah dengan kekuasaan dinasti Bani Umayyah, diantaranya adalah :
a) Dinasti Umayyah sangat bersifat Arab
lokal, artinya dalam segala hal para pejabatnya berasal dari keturunan Arab
murni, begitu pula corak peradaban yang dihasilkan pada dinasti ini.
b) Dinasti Abbasiyah, disamping bersifat
Arab murni, juga sedikit banyak telah terpengaruh dengan corak pemikiran dan
peradaban Persia, Romawi Timur, Mesir dan sebagainya.
Pada
masa pemerintahan dinasti Abbasiyah, luas wilayah kekuasaan Islam semakin
bertambah, meliputi wilayah yang telah dikuasai Bani Umayyah, antara lain
Hijaz, Yaman Utara dan Selatan, Oman, Kuwait, Irak, Iran (Persia), Yordania,
Palestina, Lebanon, Mesir, Tunisia, Al-Jazair, Maroko, Spanyol, Afganistan dan
Pakistan, dan meluas sampai ke Turki, Cina dan juga India.
2.
Bentuk-Bentuk Peradaban Islam Pada
Masa Daulah Abbasiyah
Masa
pemerintahan Dinasti Abbasiyah merupakan masa kejayaan Islam dalam berbagai
bidang, khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Pada zaman ini,
umat Islam telah banyak melakukan kajian kritis terhadap ilmu pengetahuan,
yaitu melalui upaya penterjemahan karya-karya terdahulu dan juga melakukan
riset tersendiri yang dilakukan oleh para ahli. Kebangkitan ilmiah pada zaman
ini terbagi di dalam tiga lapangan, yaitu : kegiatan menyusun buku-buku ilmiah,
mengatur ilmu-ilmu Islam dan penerjemahan dari bahasa asing.
Setelah
tercapai kemenangan di medan perang, tokoh-tokoh tentara membukakan jalan
kepada anggota-anggota pemerintahan, keuangan, undang-undang dan berbagai ilmu
pengetahuan untuk bergiat di lapangan masing-masing. Dengan demikian muncullah
pada zaman itu sekelompok penyair-penyair handalan, filosof-filosof, ahli-ahli
sejarah, ahli-ahli ilmu hisab, tokoh-tokoh agama dan pujangga-pujangga yang
memperkaya perbendaharaan bahasa Arab.
Adapun
bentuk-bentuk peradaban Islam pada masa daulah Bani Abbasiyah adalah sebagai
berikut :
1) Kota-Kota Pusat Peradaban
Di
antara kota pusat peradaban pada masa dinasti Abbasiyah adalah Baghdad dan
Samarra. Bangdad merupakan ibu kota negara kerajaan Abbasiyah yang didirikan
Kholifah Abu Ja’far Al-Mansur (754-775 M) pada tahun 762 M. Sejak awal
berdirinya, kota ini sudah menjadi pusat peradaban dan kebangkitan ilmu
pengetahuan. Ke kota inilah para ahli ilmu pengetahuan datang beramai-ramai
untuk belajar. Sedangkan kota Samarra terletak di sebelah timur sungai Tigris,
yang berjarak + 60 km dari kota Baghdad. Di dalamnya terdapat 17 istana mungil
yang menjadi contoh seni bangunan Islam di kota-kota lain.
2) Bidang Pemerintahan
Pada masa Abbasiyah I (750-847 M),
kekuasaan kholifah sebagai kepala negara sangat terasa sekali dan benar seorang
kholifah adalah penguasa tertinggi dan mengatur segala urusan negara. Sedangkan
masa Abbasiyah II 847-946 M) kekuasaan kholifah sedikit menurun, karena Wazir
(perdana menteri) telah mulai memiliki andil dalam urusan negara. Dan pada masa
Abbasiyah III (946-1055 M) dan IV (1055-1258 M), kholifah berperan menjadi
boneka saja, karena para gubernur di daerah-daerah telah menempatkan diri
mereka sebagai penguasa kecil yang berkuasa penuh.
Dalam pembagian wilayah (provinsi),
pemerintahan Bani Abbasiyah menamakannya dengan Imaraat, gubernurnya bergelar Amir/ Hakim. Imaraat saat itu ada
tiga macam, yaitu ; Imaraat Al-Istikhfa, Al-Amaarah Al-Khassah dan Imaarat
Al-Istilau. Kepada wilayah/imaraat ini diberi hak-hak otonomi terbatas,
sedangkan desa/ al-Qura dengan kepala desanya as-Syaikh al-Qoryah diberi otonomi
penuh.
Selain hal tersebut di atas, Dinasti
Abbasiyah juga telah membentuk angkatan perang yang kuat di bawah pimpinan panglima,
sehingga kholifah tidak turun langsung dalam menangani tentara. Kholifah juga
membentuk Baitul Mal/ Departemen Keuangan untuk mengatur keuangan negara
khususnya. Di samping itu juga kholifah membentuk badan peradilan, guna
membantu kholifah dalam urusan hukum.
3) Bangunan Tempat Pendidikan dan
Peribadatan
Di antara bentuk bangunan yang
dijadikan sebagai lembaga pendidikan adalah madrasah. Madrasah yang terkenal
saat itu adalah Madrasah Nizamiyah, yang didirikan di Baghdad, Isfahan,
Nisabur, Basrah, Tabaristan, Hara dan Musol oleh Nizam al-Mulk seorang perdana
menteri pada tahun 456 – 486 H. selain madrasah, terdapat juga Kuttab, sebagai
lembaga pendidikan dasar dan menengah, Majlis Muhadhoroh sebagai tempat
pertemuan dan diskusi para ilmuan, serta Darul Hikmah sebagai perpustakaan.
Di samping itu, terdapat juga bangunan
berupa tempat-tempat peribadatan, seperti masjid. Masjid saat itu tidak hanya
berfungsi sebagai tempat pelaksanaan ibadah sholat, tetapi juga sebagai tempat
pendidikan tingkat tinggi dan takhassus. Di antara masjid-masjid tersebut
adalah masjid Cordova, Ibnu Toulun, Al-Azhar dan lain sebagainya.
4) Bidang Ilmu Pengetahuan
Ilmu pengetahuan pada masa Daulah Bani
Abbasiyah terdiri dari ilmu naqli dan ilmu ‘aqli. Ilmu naqli terdiri dari Ilmu
Tafsir, Ilmu Hadits Ilmu Fiqih, Ilmu Kalam, Ilmu Tasawwuf dan Ilmu Bahasa.
Adapaun ilmu ‘aqli seperti : Ilmu Kedokteran, Ilmu Perbintangan, Ilmu Kimia,
Ilmu Pasti, Logika, Filsafat dan Geografi.
C. Perkembangan Ilmu Pengetahuan Agama dan
Syari’at Pada Masa Bani Abbasyiyah
Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan politik, para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Bani Abbas menjadi lima periode:
Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan politik, para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Bani Abbas menjadi lima periode:
Ø Periode Pertama (132 H/750 M – 232
H/847 M), disebut periode pengaruh Persia pertama
Ø Periode Kedua (232 H/847 M – 334 H/945
M), disebut masa pengaruh Turki pertama
Ø Periode Ketiga (334 H/945 M – 447
H/1055 M), masa kekuasaan dinasti Buwaih dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah.
Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua
Ø Periode Keempat (447 H/1055 M – 590
H/1194 M), masa kekuasaan dinasti Bani Seljuk dalam pemerintahan khilafah
Abbasiyah; biasanya disebut juga masa pengaruh Turki kedua
Ø Periode kelima (590 H/1194 M – 656
H/1258 M), masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya
hanya efektif di sekitar kota Baghdad.
Pada periode pertama pemerintahan Bani
Abbas mencapai masa keemasannya. Pada periode inilah berhasil disiapkan
landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Namun,
setelah periode ini berakhir, pemerintahan Bani abbas mulai menurun dalam
bidang politik, tetapi filsafat dan ilmu pengetahuan terus berkembang.
a. Perkembangan Ilmu dan Metode Tafsir Al
Qur’an
Perkembangan metode tafsir di masa Daulah abbasiyah ditandai dengan munculnya dua metode penafsiran Al Qur’an, yaitu tafsir bin al-ma’tsur dan tafsir bin al-ra’yi . Diantara para ahli tafsir bi al-ma’tsur adalah:
Perkembangan metode tafsir di masa Daulah abbasiyah ditandai dengan munculnya dua metode penafsiran Al Qur’an, yaitu tafsir bin al-ma’tsur dan tafsir bin al-ra’yi . Diantara para ahli tafsir bi al-ma’tsur adalah:
v Ibn Jarir Al-Thabari dalam tafsirnya
Jami’Al-Bayan fi Tafsir Al-Qur’an yang lebih dikenal dengan tafsir Al-Thabari.
Tafsir ini merupakan tafsir yang terpenting dari tafsir bi al-ma’t
(interpretasi taradisional),hasil karya beliau terdiri dari 30 jilid dan
terkenal karena ketelitiannya dan kesaksamaannya. Banyak materinya berasal dari
sumber autentik Yahudi seperti yang ditulis oleh Ka’b Al-Ahbar dan Wahb Ibn
Munabbin.
v Ibn ‘Athiyah Al-Andalusy
v As Sudai yang mendasarkan tafsirnya
kepada Ibn Abbas dan Ibn Mas’ud Radiyallahu ‘Anhuma.
v Muqatil Ibn Sulaiman yang tafsirnya
terpengaruh oleh kitab Taurat.
Sedangkan
ahli tafsir tafsir bi al-ra’yi adalah:
a) Abu Bakar Asam (Mu’tazilah)
b) Abu Muslim Muhammad ibn Bahar Isfahany
(Mu’tazilah)
c) Ibn Jarul Asadi (Mu’tazilah), dan
d) Abu Yunus Abdussalam (Mu’tazilah)
Kedua metode tafsir di atas sangat
berkembang di masa pemerintahan Bani Abbas. Akan tetapi jelas sekali bahwa
tafsir dengan metode bi al-ra’yi (tafsir rasional), sangat dipengaruhi oleh
perkembangan pemikiran filsafat dan ilmu pengetahuan. Hal yang sama juga
terlihat dalam ilmu fikih dan, terutama dalam ilmu teologi. Perkembangan logika
di kalangan ummat Islam sangat mempengaruhi perkembangan dua bidang ilmu
tersebut.
b. Perkembangan Ilmu Hadits
Hadits pada zamannya hanya bersifat penyempurnaan pembukuan dari catatan dan hafalan para sahabat. Pada masa pemerintahan dinasti Abbasiyah hadits mulai diklasifikasikan secara sistematis dan kronologis. Pengklasifikasian itu secara ketat dikualifikasikan sehingga kita kenal dengan klasifikasi hadits Shahih, Dhaif, dan Maudhu. Bahkan dikemukakan pula kritik sanad dan matan, sehingga terlihat jarah dan takdil rawi yang meriwayatkan hadits tersebut.
Pada masa ini muncullah ahli-ahli hadits, antara lain:
§ Imam Bukhari, yaitu Imam Abu Abdullah Muhammad Ibn Abi al-Hasan Al-Bukhari. Lahir di Bukhara tahun 194 H dan wafat tahun 256 H di Baghdad.
§ Imam Muslim, yaitu Imam Abu Muslim Ibn Al-Hajjaj Al Qushairy An Naishabury, wafat tahun 261 H di Naishabur.
Hadits pada zamannya hanya bersifat penyempurnaan pembukuan dari catatan dan hafalan para sahabat. Pada masa pemerintahan dinasti Abbasiyah hadits mulai diklasifikasikan secara sistematis dan kronologis. Pengklasifikasian itu secara ketat dikualifikasikan sehingga kita kenal dengan klasifikasi hadits Shahih, Dhaif, dan Maudhu. Bahkan dikemukakan pula kritik sanad dan matan, sehingga terlihat jarah dan takdil rawi yang meriwayatkan hadits tersebut.
Pada masa ini muncullah ahli-ahli hadits, antara lain:
§ Imam Bukhari, yaitu Imam Abu Abdullah Muhammad Ibn Abi al-Hasan Al-Bukhari. Lahir di Bukhara tahun 194 H dan wafat tahun 256 H di Baghdad.
§ Imam Muslim, yaitu Imam Abu Muslim Ibn Al-Hajjaj Al Qushairy An Naishabury, wafat tahun 261 H di Naishabur.
c. Perkembangan Ilmu Qira’at
Qira’ah Sab’ah menjadi termasyhur pada permulaan abad kedua hijriyah, dibukukan sebagai sebuah ilmu pada penghujung abad ketiga hijriyah di Baghdad oleh Imam Ibn Mujahid Ahmad bin Musa Ibnu Abbas, beliau amat teliti, tidak mau meriwayatkan kecuali dari orang yang kuat ingatannya (dhabit), dapat dipercaya dan panjang umur dalam mengikuti qira’ah. Disamping itu harus ada kesepakatan mengambil atau memberi darinya.
Qira’ah Sab’ah menjadi termasyhur pada permulaan abad kedua hijriyah, dibukukan sebagai sebuah ilmu pada penghujung abad ketiga hijriyah di Baghdad oleh Imam Ibn Mujahid Ahmad bin Musa Ibnu Abbas, beliau amat teliti, tidak mau meriwayatkan kecuali dari orang yang kuat ingatannya (dhabit), dapat dipercaya dan panjang umur dalam mengikuti qira’ah. Disamping itu harus ada kesepakatan mengambil atau memberi darinya.
Dari data ini dapat diambil kesimpulan
bahwa di zaman pemerintahan Bani Abbas perkembangan ilmu Qira’at mencapai
puncaknya. Diantara ahli qira’at yang terkenal di masa pemerintahan Bani Abbas periode
Pertama, adalah:
v Yahya bin Al-Harits Adz Dzamary wafat
tahun 145 H
v Hamzah bin Habib Az Zayyat wafat tahun
156 H di zaman pemerintahan khalifah Abu Ja’far Al Manshur (136 – 158 H)
v Abu Abdirrahman Al Muqry wafat tahun
213 H, dan
v Khalaf Bin Hisyam Al Bazzaz wafat
tahun 229 H.
d. Perkembangan Ilmu Fiqhi
Dalam bidang fiqih, pada masa ini lahir fuqaha legendaris yang kita kenal, seperti Imam Abu Hanifah (700 – 767 M), Imam Malik (713 – 795 M), Imam Syafi’i (767 – 820 M) dan Imam Ahmad Ibn Hambal (780 – 855 M).
Dalam bidang fiqih, pada masa ini lahir fuqaha legendaris yang kita kenal, seperti Imam Abu Hanifah (700 – 767 M), Imam Malik (713 – 795 M), Imam Syafi’i (767 – 820 M) dan Imam Ahmad Ibn Hambal (780 – 855 M).
e. Perkembangan Ilmu Kalam
Perdebatan para ahli mengenai soal dosa, pahala surga dan neraka, serta pembicaraan mereka mengenai ketuhanan dan tauhid, menghasilkan suatu ilmu, yaitu ilmu tauhid atau ilmu kalam.
Perdebatan para ahli mengenai soal dosa, pahala surga dan neraka, serta pembicaraan mereka mengenai ketuhanan dan tauhid, menghasilkan suatu ilmu, yaitu ilmu tauhid atau ilmu kalam.
Diantara aliran ilmu kalam yang
berkembang adalah Jabariyah, Qadariyah, Mu’tazilah dan Asy’ariyah. Para
pelopornya adalah Hahm Ibn Safwan, Ghilan al-Dimisyq, Wasil ibn ‘Atha’,
al-Asy’ari dan Imam al-Ghazali.
f. Perkembangan Ilmu Bahasa
Bahasa merupakan salah satu alat komunikasi yang sangat efektif. Ia tidak hanya dipergunakan dalam berkomunikasi lewat lisan, tetapi juga dipergunakan sebagai alat untuk mengekspresikan seni, di samping sebagai bahasa ilmiah. Diantara ilmu bahasa yang berkembang pada waktu itu adalah Nahwu, Sharaf, Bayan, Bad’i dan Arudh. Pada masa pemerintahan dinasti Abbasiyyah ilmu ini mengalami perkembangan sangat pesat. Hal itu dikarenakan bahasa Arab dijadikan sebagai bahasa ilmu pengetahuan, di samping sebagai alat komunikasi antara bangsa. Pusat perkembangan ilmu bahasa Arab adalah Kufah dan Bashra. Diantara para ahli ilmu bahasa yang mempunyai peran besar dalam pengembangan ilmu bahasa adalah:
Bahasa merupakan salah satu alat komunikasi yang sangat efektif. Ia tidak hanya dipergunakan dalam berkomunikasi lewat lisan, tetapi juga dipergunakan sebagai alat untuk mengekspresikan seni, di samping sebagai bahasa ilmiah. Diantara ilmu bahasa yang berkembang pada waktu itu adalah Nahwu, Sharaf, Bayan, Bad’i dan Arudh. Pada masa pemerintahan dinasti Abbasiyyah ilmu ini mengalami perkembangan sangat pesat. Hal itu dikarenakan bahasa Arab dijadikan sebagai bahasa ilmu pengetahuan, di samping sebagai alat komunikasi antara bangsa. Pusat perkembangan ilmu bahasa Arab adalah Kufah dan Bashra. Diantara para ahli ilmu bahasa yang mempunyai peran besar dalam pengembangan ilmu bahasa adalah:
1. Sibawaih (wafat tahun 183 H). Karyanya
terdiri dari dua jilid setebal 1000 halaman.
2. Al-Kisai, wafat tahun 198 H.
3. Abu Zakaria al-Farra (wafat tahun 208
H). Kitab Nahwunya terdiri dari 6000 halaman lebih.
g. Perkembangan Ilmu Sastra
Penyair bangsa Arab sebelum zaman dianggap sebagai orang yang mempunyai ilmu pengetahuan tinggi, tukang sihir bergabung dengan jin dan setan dan menggantungkan kepada mereka untuk syair magic yang diinspirasikan kepadanya.
Di antara para penyair terkenal yaitu:
Penyair bangsa Arab sebelum zaman dianggap sebagai orang yang mempunyai ilmu pengetahuan tinggi, tukang sihir bergabung dengan jin dan setan dan menggantungkan kepada mereka untuk syair magic yang diinspirasikan kepadanya.
Di antara para penyair terkenal yaitu:
Faktor-faktor
penyebab berkembang pesatnya Ilmu Pengetahuan Agama dan Syari’at di masa
pemerintahan Abbasiyah adalah sebagai berikut:
1. Para penguasanya cinta kepada ilmu dan
banyak memberikan motivasi kuat kepada para ilmuan untuk melakukan kajian-kajian
ilmiah dalam berbagai disiplin ilmu. Baik ilmu agama dan syari’at (Al Ulum al-
Naqliyah) yang merupakan fondasi kehidupan, maupun ilmu-ilmu umum (Al Ulum
al-Aqliyah) yang merupakan penopang kehidupan. Adalah Al Ma’mun, khalifah
pengganti Al-Rasyid, dikenal sebagi khalifah yang sanagt cinta kepada ilmu.
2. Sikap dan kebijaksanaan para
penguasanya dalam mengatasi segala persoalan, termasuk dalam sikap politiknya.
Sebab sikap politik dinasti Abbasiyah berbeda dengan sikap politik yang
dijalankan pemerintahan Bani Umayyah. Dinasti Umayyah sangat fanatik terhadap
keturunan Arab (Arab Orientid), tetapi dinasti Abbasiyah lebih bersifat
demokratis, meskipun tampuk pemerintahan masih tetap berada di tangan khalifah
dari keturunan Arab.
Penyediaan sarana dan prasarana untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.
Penyediaan sarana dan prasarana untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.
3. Terjadinya asimilasi antar bangsa Arab
dengan bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu mengalami perkembangan dalam bidang
ilmu pengetahuan.
D. Kemunduran
Daulah Bani Abbasyiyah
Kehancuran
Dinasti Abbasiyah ini tidak terjadi dengan cara spontanitas, melainkan melalui
proses yang panjang yang diawali oleh berbagai pemeberontakan dari kelompok
yang tidak senang terhadap kepemimpinan kholifah Abbasiyah. Disamping itu juga,
kelemahan kedudukan kekholifahan dinasti Abbasiyah di Baghdad, disebabkan oleh
luasnya wilayah kekuasaan yang kurang terkendali, sehingga menimbulkan
disintegrasi wilayah.
Di
antara kelemahan yang menyebabkan kemunduran Dinasti Abbasiyah adalah sebagai
berikut :
a) Mayoritas Kholifah Abbasiyah periode
akhir lebih mementingkan urusan pribadinya dan cenderung hidup mewah.
b) Luasnya wilayah kekuasaan Abbasiyah,
sementara komunikasi pusat dengan daerah sulit dilakukan.
c) Semakin kuatnya pengaruh keturunan
Turki dan Persia, yang menimbulkan ketersinggungan bagi bangsa Arab murni.
d) Permusuhan antara kelompok suku dan
agama.
e) Perang Salib yang berlangsung beberapa
gelombang dan menelan banyak korban.
f) Penyerbuan tentara Mongol di bawah
pimpinan Panglima Hulagu Khan yang menghacurleburkan kota Baghdad.
E. Kesimpulan
·
Zaman
pemerintahan Bani Abbas (Daulah Abbasiyah) merupakan zaman keemasan Islam dalam
sepanjang sejarah peradaban Islam. Hal ini ditandai dengan berkembang pesatnya
Ilmu Pengetahuan Agama dan Syari’at, seperti Ilmu Tafsir, Ilmu Qira’at, Hadits,
Fiqh, Bahasa dan Retorika, Ilmu Kalam, Ilmu Sastra maupun ilmu-ilmu pengetahuan
lainnya, seperti Filsafat, Kedokteran, ilmu administrasi, Ilmu Teknik,
Matematika, farmasi dan Kimia, Astronomi, Sejarah dan Geografi, Ilmu Optik dan
lain-lain.
·
Faktor-faktor
berkembangnya ilmu pengetahuan agama dan syari’at di masa pemerintahan Bani
Abbas, adalah
Ø Para penguasanya cinta kepada ilmu dan
banyak memberikan motivasi kepada para ilmuan untuk pengembangan ilmu
pengetahuan terutama ilmu pengetahuan agama.
Ø Sikap dan kebijaksanaan politik yang
kondusif.
Ø Penyediaan sarana dan prasarana yang
memadai untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.
F. Hikmah Mempelajari Sejarah Pertumbuhan llmu
Pada Masa Bani Abbasyiyah
ü Meningkatkan keimanan kepada Allah SWT
dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
ü Menumbuhkan semangat menuntut ilmu
baik ilmu agama maupun ilmu dunia seperti yang telah dicontohkan oleh para
cendekiawan Islam dalam mengembangkan nilai-nilai kebudayaan yang sesuai dengan
ajaran islam.
ü Membina rasa persatuan dan kesatuan
umat islam dan kerukunan beragama di seluruh dunia yang tidak membeda-bedakan
suku, bangsa, negara, warna kulit, dan lain sebagainya.